Akulturasi Islam dengan Hindu dalam Arsitektur Masjid

Senin, Oktober 11th, 2010

Nama: Ade Apriyansyah

Kelas: 1KB05

NPM:20110110

Memadukan unsur–unsur budaya lama dengan budaya baru dalam arsitektur Islam, sudah menunjukkan adanya akulturasi dalam proses perwujudan arsitektur Islam, khususnya di Jawa.

Setelah kerajaan Majapahit runtuh, era baru kerajaan Islam pun mulai muncul di bumi Nusantara. Ajaran Islam yang masuk tanpa kekerasan bersifat terbuka terhadap unsur – unsur kebudayaan lama yang ada. Karena itulah wujud arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh faktor sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, faktor lingkungan serta adat istiadat masyakakat setempat.

Perkembangan agama Islam di Indonesia makin pesat sejak kekuasaan Kerajaan Majapahit makin Menyurut. Karena pada saat itu suasana kerajaan diwarnai pertikaian dan perebutan kekuasaan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh bupati–bupati di daerah pesisir yang telah beragama Islam melepaskan diri dan berontak terhadap kekuasaan Majapahit. sekitar 1518.
Setelah Kerajaan Majapahit tenggelam era baru kerajaan Islam pun mulai muncul di bumi Nusantara.

Masjid Agung Demak di Jawa Tengah misalnya, mempunyai nilai historis cukup penting berkaitan dengan sejarah perkembangan agama Islam di Jawa. Bangunan masjid ini berdiri di atas lokasi sekitar alun–alun kota Demak . Wujud arsitekturalnya menunjukkan akulturasi kebudayaan Islam dengan kebudayan Hindu saat itu atap bangunannya runcing ke atas dengan tiang–tiang penopang yang besar–besar dan tinggi. Motif–motif hias tiang bangunannya nampak berhubungan dengan kebudayaan Majapahit .

Setelah itu ada Masjid Agung Menara Kudus. Kekhasan dari Masjid Agung Menara kudus ini adalah adanya bangunan menara atau minaret sebagai kelengkapan masjid untuk penyampaian adzan menurut waktu-waktu sholat. Wujud bangunan menara dan bangunan candi inilah yang berasal dari kubudayaan Hindu. Ciri dari bangunan Hindunya lebih diperjelas dengan konstruksi bangunan yang tersusun dari batu bata dengan pola bangunan kepala (mahkota) – badan kaki. Sedangkan ciri dari bangunan Islamnya adalah masjid yang sebagai bangunan induknya. Penampilan keseluruhan masjid ini merupakan satu kesatuan dalam satu kompleks bangunan. Tetapi usaha untuk mempersatukan unsur Hindu dan Islam pada Masjid ini tidaklah dilakukan melalui seleksi yang ketat, sehingga tampak kurang adanya kesan saling mendukung antara bangunan satunya dengan yang lain.

Jadi, akulturasi dalam arsitektur Islam pada zaman perkembangannya di Jawa, diperkenakan oleh wali Allah dan diyakini memiliki berbagai kelebihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: